Selasa, 10 Maret 2015

South Bay Garut

 A Few effort of photo that i'm takken when i'm in holiday at Pameumpeuk      


Fujifilm in Binggo's watercase.. just dive it


Are you still alive fish? even all your parts was missing

They are a Fisherman, a great job with a great risk too

Hey papper craft, where is Neptunus?

At Puncak Guha

Hey Sea Eagle, flying high so you can see the horizon farther

Human's endurance have a limit
I'm Here still waiting and learning









A tent near coastal line, wake up and realize i'm was there.

Rabu, 04 Maret 2015

Jejak





Tanah ini terlalu Cantik untuk ku injak
Maafkan
Dan Waktu pun terlalu bijaksana untuk ku abaikan
Maafkan

Tapi dengan tidak begitu,
Takkan pernah ku tahu apa yang akan kutemukan
Apa yang Kau ajarkan dan
Apa yang telah Kau gariskan.

Hingga akhirnya jejak tak berbekas ini menjadi sebuah memory
Untuk diingat
Untuk disyukuri dan,
Untuk diceritakan kembali di suatu hari

Dan Semoga Tanah Rantemario lebih cantik dari tanah ini
Sampaikan jejakku disana.
Good Luck  and Have a Great Effort !!!

Minggu, 21 Desember 2014

CIKURAY MEANS




“Jika hanya puncak saja yang ditargetkan, percayalah hal itu akan didapatkan dengan mudah dan  Jika kau membawa orang lain menuju puncak, Maka hal tersebut akan lebih bermakna” – Cikuray 29 Nov 2014 –

Intro

Naik Cikuray yuk!!, sebuah ajakan simple dari seorang kawan dan sudah hampir setahun lebih saya tak menyapanya entah bagaimana rupa puncak itu sekarang. Pendakian cikuray ini rencananya di eksekusi tanggal 29 november 2014 dengan anggota pendakian yang belum jelas juga. Bisa di maklum karena nama tim ini adalah “Kaget team” semuanya serba unpredictable jadi harus dipastikan juga anggotanya tidak mengidap penyakit stoke atau lemah jantung .

Meet Point

Saya dan beberapa anggota pendakian dari kota cikarang bekasi dan sekitarnya menentukan meet point pertama di terminal Guntur. Ada 4 orang orang dari rombongan  ini, Ari WIbowo si ganteng narsis, Hafid, Faiha dan Fikri si Anak pantai katanya dan Reza aka Blade. Tak lama saya datang di terminal Guntur ternyata mereka sudah siap sedia di warteg terminal sambil menunggu. Finally i meet them.

Perjalanan dilanjutkan menuju meet point kedua, Rumah Tian. Letaknya memang cukup jauh dari pusat kota, tepatnya di bayombong sekitar 30 menit perjalanan bermotor. Setibanya di rumah Tian ternyata sudah ada Kang Hendra, Fathya, Ari, Tian, Hari dan temannya, Intan, dan Nova. They are ready for Hike !!

Base Camp Bayombong yang ada di desa Pamalayan kami tempuh dengan menggunakan angkot charteran. Dengan jalur mobil yang sempit dan menanjak saya kasih jempol untuk sopirnya.

Wild Area

Sebuah tempat bernama Base camp menjadi awal mula kami melangkahkan kami. Dengan menuliskan nama kami di buku pendaki dan Fikri sebagai ketuanya, sejak itu kami resmi menjadi pendaki Cikuray.
ladang track
                                    
Sekitar pukul 14.30 lebih kami berjalan menjauh meninggalkan basecamp, track ladang petani sudah menjadi hal klasik yang harus kami lalui. Track ladang petani ini tracknya diawali dengan jalur setapak kecil yang sudah dilapisi dengan semen, tapi jangan terlalu berharap lebih 30 menit dari titik awal tersebut jalanan menjadi tanah merah yang licin. Apalagi ketika kami mulai menjejakan kaki di tanah merah hujan mulai turun.

Pray
Diantara anggota pendaki di kelompok ini ternyata ada juga yang beginer. Terlihat dari nafas mereka ketika berjalan yang mulai tergesa-gesa. Kalau dibaratkan langkah kaki dalam mendaki itu seperti pelajaran awal gambar teknik, saat itu harus buat garis – garis lurus sepanjang lebarnya kertas A4 dari atas hingga bawah. Garis – garis yang dibuat itu mendeskripsikan kestabilan tangan ketika menggoreskan abu pensil pada kertas. Semakin banyak garis yang dibuat semakin cepat  setiap orang mendapatkan kestabilannya dan tentunya kestabilan tiap orang berbeda2. Nah kalau dianalogikan langkah kaki mendaki, nafas tergesa-gesa tersebut menandakan usaha untuk mencari ritmenya/kestabilannya, sekali sudah dapat ritmenya semakin banyak dia berkreasi dengan ritmenya.

Hafid narsis
Beginer


Lebih 2 jam kami berjalana menyusuri ladang petani ini dan sudah banyak energi yang dikeluarkan dan hampir 20 menit sekali kami beristirahat. Tak ayal ketika kami bertemu dengan seorang anak petani yang melambaikan-lambaikan tangannya sambil bersorak “aya nu naek, aya nu naek dst ... “ menjadi hal yang menggelikan sekaligus menjadi boost semangat lagi.

Tantangan terakhir dari ladang petani ini ada di depan. Sebuah tanjakan dengan kemiringan hampir 60 sepanjang kurang lebih 400 m dengan anak tangga terbuat dari tanah, tak lupa juga pegangan tangan berbahan dari bambu yang menjadi safety line jalur tersebut. Oh.. it’s really a challenge, karena ini special maka harus di hadapin dengan special juga, salep Hotcream dioleskan di sepanjang betis kaki hingga lutut. Setelah itu mulai melangkahkan kaki selangkah demi selangkah menaiki anak tangga tersebut dan setelah sekitar 10 menit dengan tambahan doping madurasa akhirnya bisa sampai diujungnya juga. Fiuhh langsung selondorin kaki.

Diibaratkan dalam software pro engineer setalah membuat bentukan 3D awal selanjutnya membuat datum/reference untuk membuat bentukan 3D lainnya, begitu seterusnya hingga bentuk 3D utuhnya selesai. 30 menit dari tanjakan terakhir ladang petani tersebut tanah lapang yang bisa menampung 2 tenda tersebut akhirnya menjadi datum/reference bagi saya dan kang Hendra. Ternyata:

Energy Requirement for Camp at Top Cikuray > Our starts Energy.

Bisa dimaklumi karena tenaga muda yang mulai terkikis oleh waktu, sehingga kami putuskan untuk membuat camp dan mengisi tenaga terlebih dahulu. Dengan kondisi tersebut kami merencanakan untuk summit attack pada pagi harinya. Pada saat itu waktu sudah menunjukan pukul 6.30 malam dengan kondisi hujan yang cukup lebat.

Sisa anggota kelompok selain kami berdua melanjutkan perjalanan, sesuai dengan rencana mereka berencana untuk camp di pos bayangan. Berdua di tempat camp tersebut, kami memasak makanan dan mendirikan tenda dan setelah itu mempersiapkan diri untuk beristirahat. Seperti nyanyian nina bobo sayup-sayup suara angin kencang di luar tenda, suara rintik hujan dan cerita hidup menjadi pengantar menuju dunia mimpi.

Pukul 9 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju puncak cikuray, dengan tenaga yang sudah terisi penuh dan tidur yang cukup. Kami yakin hari ini

Energy Requirement for Camp at Top Cikuray = Our starts Energy. Atau juga malah over., haha

Jalur yang dilalui dari tempat camp bisa dibilang mengesalkan dan menjengkelkan, sekelas dan menjengkelkan seperti membuat gambar assy yang ideal tapi cleareance tiap partnya nggak kena-kena. Nggak salah jika dianalogikan seperti itu karena sepanjang jalan, tanjakan yang ekstreem menjadi tantangan-tantangan berat kami tapi tak seberat tantangan hidup deh haha.  

Pukul 10:30 an saya dan kang hendra akhirnya mencapai camp anggota lainnya, dengan situasi yang sedang sarapan atau juga makan pagi atau mungkin makan siang, ya itukah. Karena kami sudah menemukan ritme langkah kaki, jadi berat juga untuk diam sejenak. Kami berdua ditambah dengan Fikri melanjutkan perjalanan menuju puncak dan sisanya akan menyusul setelah selesai makan. Penampakan jalur pendakian ke arah puncak setelah camp tersebut.. oh good i couldn’t describe that  , ini orang ya yang buat jalurnya? It’s really awesome track.


Finally it’s top Cikuray.

Kang Hendra at top Cikuray

Kami sampai di puncak sekitar jam 12 siang dan  sekitar 30 menit menunggu di puncak sambil minum kopi akhirnya sisa anggota pendakian yang lainnya datang juga. Langsung selfie-gruofie juga dan sayangnya kondisi cikuray saat itu bukan kondisi terbaiknya.

selfienya

Groufienya


My Medallion
Hey last year i’m here, standing and wearing a graduation dress as a symbolize that i have Amd behind my name. Is that allready enough??
Hey i have passed a horible moment along that year and i have allready learn.
Hey i know it’s my year for RUN RUN and RUN

It just a quote for myself in that moment J

Sekitar pukul 1 lebih kami melanjutkan perjalanan kami untuk pulang meninggalkan puncak Cikuray tersebut dan akhirnya melewati jalur terjal yang membuatku berpikir apa jalur ini dibuat oleh manusia? Terus berjalan turun melewati jalur-jalur ekstreem tersebut dan terkadang saya harus jongkok untuk menjaga keseimbangan. Tak lama dari jalur ekstreem itu akhirnya kami sampai di camp, terlihat mereka sedang membereskan tenda dan packing kedalam ransel mereka. Dengan kesibukan tersebut saya dan kang Hendra akhirnya melanjutkan perjalanan menuju camp kami dan sekali lagi melewati jalur yang menjengkelkan/mengesalkan hingga sekitar satu jam akhirnya sampai di camp kami.

Sekitar satu jam kemudian tenda sudah dipacking kedalam ransel 45 Liter  begitu juga dengan barang-barang yang lainnya, taklama menunggu Fathya akhirnya muncul pertama di camp kami. Selang beberapa lama yang lainnya pun berdatangan. Seperti tak ingin mengecewakan kami cikuray dengan bermurah hati menunjukan sunset yang amazingnya. It’s awesome and  i’m really miss my Nikon L

Sunset

Sayup berwarna orange pada awan mulai berganti dengan warna gelap, matahari yang menggelayun diatas Gunung Papandayan mulai berganti dengan Bulan yang mulai muncul. Dan kami yang sekejap terpesona dengan hal tersebut mulai melangkahkan kaki untuk pulang. Beranjak dari tempat amazing tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan kami baru sampai di tempat dimana anak petani melambaikan tangannya. Beberapa kali diantara kami mulai kehilangan keseimbangan, wajar karena angin yang bergerak dari arah kiri kami sangat kencang. Disaat-saat terpaan angin tersebut, Garut begitu terlihat mempesona dari tempat itu. Lampu kota yang terlihat kontras sangat memanjakan mata, seolah mambuat saya untuk duduk lebih lama menikmatinya. Tapi terpaan-terpaan angin tersebut memaksa kami untuk segera turun ke basecamp.

Pukul 9 malam lebih akhirnya kami sampai di basecamp, tak lama kami menunggu charteran mobil yang akan membawa kami ke rumah Tian. Dari rumah Tian kami beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan pulang ke kota masing-masing.

Thank for trip from Kaget team, it’s really shocking, juga thanks untuk ikan goreng buatan ibu Tian taklupa sambalnya juga haha. Ya terimakasih untuk semuanya. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap perjalanan.


- 210132013
- Vallis Stenophylla

   

Sabtu, 20 September 2014

Bacpacker Pulau Tidung


Pulau tidung, siapa yang tidak mengenal pulau yang satu ini. Salah satu pulau yang berada di utara Jakarta, satu diantara ratusan pulau eksotis yang ada di kepulauan seribu. Memang eksotis, pulau ini terdiri dari 2 pulau, pulau Tidung kecil dan Pulau tidung besar dan kenapa eksotis?? Kedua pulau tersebut dihubungkan dengan sebuah jembatan yang diberi nama “Jembatan Cinta”. 


Pulau tidung besar digunakan sebagai tempat pemukiman bagi warga sekitar, yah alasannya memang simple karena pulau ini luasnya lebih besar dari pada saudaranya haha. Selain itu dermaga yang menjadi parkiran perahu-perahu nelayan ataupun perahu pariwisata bersandar di pulau tidung besar. Satu hal yang yang unik di pulau ini yaitu jalanan yang ada disini semuanya di lapisi dengan paving block,  mirip dengan desa-desa yang berada di dataran tanah jawa. Hal yang paling absolute adalah disini tak ada yang namanya mobil, yah bayangkan saja gimana ngangkut mobil dari pulau jawa kesini.. nggak mungkin pakai perahu nalayan juga kan haha. Hal absolute lainnya adalah  sepeda dan motor menjadi alat transportasi utama. Saking utamanya dan kebanyakan, turis yang berkunjung ke sini akan melihat sepeda yang tergeletak begitu saja di pinggiran jalan paving block seperti tak ada yang menjadi pemilik tuh sepeda. 


Terus mengikuti jalan setapak paving block ini akhirnya gua berada di tempat paling super eksotis… “Jembatan Cinta”  Jembatan yang menghubungkan antara pulau tidung besar dan pulau tidung kecil, bayangin aja jembatan yang lebarnya bisa 2 meter ini dibangun di atas air laut dan dari sini juga gua bisa liat laut yang bener-bener laut. Dan ditengah-tengah jembatan tersebut ada tempat buat santai-santai, merenung atau mungkin bisa buat mancing juga. “Jembatan Cinta” pulau tidung emang eksotis dan satu-satunya disini… yah emang cuman ada satu kali haha. 
 Next diujung jembatan cinta ini gua akhirnya menemukan hal yang selama di pulau tidung gua cari, “kopi”. Kopi tersebut dibuat oleh mbak-mbak yang udah menjadi warga tetap pulau tidung kecil di sebuah warung kayu nan rindang dikelilingi pasir putih sebagai halamannya dan segelas  kopi Good Day Cappucino dibandrol dengan harga Rp 5000…… yah wajarlah di tempat wisata kaya gini masa kepengen yang murah juga. Di warung ini juga tersedia Mie instan, Nasi Goreng dan hal-hal lainnya yang bisa dimakan, sekalian promo!! 

Ikutin jalan setapak Paving block yang ada di pualu tidung kecil ini akhirnya gua sampai di sebuah tempat kaya kebun lagi. Baru tau juga kalo di pulau kecil kaya tidung ini yang tanahnya nggak subur-subur banget bisa digunain buat berkebun juga, nggak nanggung disini mereka menanam tanaman buah kaya Pisang, stroberi, buah naga juga ada. Emang kalo liriknya kolam susu koes plus “orang bilang tanah kita tanah surge, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”  bener-bener keren tanah Indonesia tuh, love it :D 

Selanjutnya tujuan gua ke pulau tidung kecil tuh buat nyari tempat camp semalam, yah kepengen nikmatin pulau Tidung dari sudut pandang yang lain dan akhirnya gua menemukan “the Lost Land” nya pulau tidung. Bener-bener Lost banget karena gua pilih tempat camp di paling ujungnya pulau tidung.. ini dia penampakan google earthnya
Bener-bener paling ujung dan asal tau aja di “lost land” ini gua bisa lihat perbedaan pulau tidung kecil dan pulau tidung besar antara yang ditelantarkan dan yang diurus. Yap pertama datang di sini agak ngiris juga karena pantainya tuh nggak bersih-bersih banget. Kaya foto dibawah.. but stay enjoy the trip lah. 



jualan ahaha



Dan ini dia rumah sementara gua, Consina Summertime buat 3 orang. Tempat camp ini nggak ada yang bisa ngalahin deh, dari sini bisa liat sunrise walaupun nggak bagus-bagus banget juga. 


Semalaman gua tidur disitu ditemenin sama seorang temen. Hal yang nggak pernah dilupain itu semalaman di tempat ini gua bisa liat penduduk lokal yang mencari lobster atau ikan-ikanan yang bisa didapet, mereka jalan dari ujung pulau tidung besar sampe ke pulau tidung kecil buat nyari ikan tadi. Yang paling ekstreem tuh mereka nggak nyari di pinggir pantai kaya yang mau mancing gitu tapi mereka jalan sekitar 150 -200 m dari bibir pantai, bayangin aja kalo ada ombak gede bisa ketarik ombak.. 

I think they ware a hero, a thought hero for their family and I think they ware never unreplaceble. ^_^
 
Malam berganti pagi kami berkemas untuk kembali ke Jakarta, kota dengan heterogen budaya, suku dan lain-lain. Pulau TIdung ini juga menunjukan kejutan lain lagi bagi gua, jalan pinggir pantai yang tadinya kering sekarang malah kena pasang.. yah jadi basah-basahan deh :( 



Menelusuri jalanan pinggir pantai yang tertutup dengan air pasang, melewati perkebunan ekstreem kecil milik warga tak lama kami sampai di warung kayu nan sederhana untuk menikmati secangkir kopi lagi. Dilanjutkan dengan melewati Jembatan Cinta yang super eksotis di ujung jembatan tersebut jalan paving block menyapa kami. Menelusuri jalan tersebut dan sepeda yang tergeletak kemarin ternyata masih tergeletak disana juga.. apa sekalian di bawa juga ya haha. Akhirnya di ujung jalan paving block tersebut jajaran perahu nelayan sudah menanti. Yah it’s time to go Home boys.

Satu pelajaran yang gue dapet di tempat ini. 

Nggak semua yang dilihat itu indah menawan, ngegemesin dan kata sifat yang lain lah, yah memang seperti itu di satu sisi tapi ketika dilihat di sisi lain akan tampak ke kekurangannya. Untuk melihat di sisi lain itu perlu keberanian, perlu pemikiran yang berbeda juga. 

Ini perjalanan yang udah gua lakuin 9 maret 2014 ke pulau Tidung barengan temen gua, nggak ada persiapan buat kesini semuanya bersifat spontanitas. Kalau Tenda, Alat masak dan lainnya memang sudah menjadi list item yang harus ada di kos kosan. Satu hal yang pasti nggak selalu harus mikir pas lagi travelling, anggap aja kita gelas kosong yang siap untuk menampung pengalaman travellingnya, Thanks ^_^