Tampilkan postingan dengan label Summitter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Summitter. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

MERBABU, KAMI SAMPAIKAN SALAM DARI STENOPHYLLA


Merbabu,
Setitik tempat di belahan bumi bagian khatulistiwa, sebuah tempat dengan ketinggian 3145 mdpl. Apakah Cantik rupanya?..
Jangan tanyakan hal itu karena aku sendiri jatuh cinta disini, Entahlah tapi rasa itu memang ada. Merbabu I’m Fall in Love!!
Dan Kusampaikan salam kami “Stenophylla”, salam yang seharusnya kami sampaikan 24 Desember 2011 silam.


“Merbabu ini kami, Stenophylla terimakasih sudah pernah ada di hati kami. Memberikan suatu makna kebersamaan. Terimakasih untuk itu dan aku bersyukur” – Merbabu, 4 April 2015



Ketukan Ingatan

Suatu percakapan group yang selalu menanyakan “habis ini mau kemana lagi kita?” di akhir setiap perjalanan. Group yang bisa dibilang “ideal group” dengan komposisi individu yang saling mengisi. Pertanyaan itu seakan menjadi tantangan bagi kami untuk terus beandai-andai, berimajinasi, dan merasakan seolah-olah kami berada di tempat itu. Merasakan auranya, udaranya bahkan lalu – lalang penduduk lokal. Imajinasi yang mengantarkan kami melewati batas yang seharusnya, melewati hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan.
“Habis ini mau kemana lagi kita?” teks yang masih belum terbalaskan oleh teman yang lain. 2 – 5 April 2015, waktu yang cukup lama.. bisa saja pergi ke malang Menyaksikan sunrise bromo turun menikmati guyuran air terjun madakaripura atau menyusuri keraton jogja hingga ke gunung api purba dan kemudian mengikuti aliran air gua pindul atau juga terbang ke banyuwangi mengagumi blue fire gunung ijen kemudian berakhir dengan berkemah di savannah baluran. Banyak yang terpikir untuk menjawab teks tersebut, hingga akhirnya “Merbabu” mengetuk ingatanku. ya aku benar-benar ingin kesana, ada salam yang belum tersampaikan dan ada hati yang ingin aku temukan. “3 Hari sepertinya ideal untuk merbabu” menjadi jawaban dari teks tersebut.
Dari percekapan itu mulailah kami merumuskan rencana perjalanan dan pendakian, mulai dari pembookingan tiket, peralatan, logistik dan yang paling penting kesiapan diri dengan anggota perjalanan dengan 7 orang yang ikut pendakian kali ini yaitu Deni, Dita, Nurhayati, Uli, Bang Mamats, Kipel dan Rizky Setiana. Hingga akhirnya ransel berisi penopang hidup sudah dipacking sempurna, menunggu perjalanan yang akan dimulai.

Jakarta, Karawang, Cileungsi dan Bandung kami bertemu di Pos 2 Wekas

2 April pukul 23.09 menjadi deadline saya untuk melanjutkan perjalanan merbabu. Tiket kereta api jurusan Purwakarta – Semarang Tawang menjadi pintu awal. keberangkatan kali ini terpusat di 2 stasiun, saya, Dita dan Nuy berangkat dari stasiun purwakarta dan Uli, bang mamats, ikhsan dan Rizky berangkat dari stasiun Cikampek dengan menggunkan kereta yang sama hanya saja dengan interval waktu keberangkatan yang berbeda pukul 23.09 dan 24.00. 
Detik Jam terus bergerak ke kanan, hingga akhirnya menunjukan pukul 21.00 dengan rasa cemas yang menghantui akan ketinggalan kereta. Rasa cemas yang sangat berdasar sekali karna pukul segitu posisi saya masih berada di Plaza semanggi, sambil buka instagram mungkin photo ini yang mewakili perasaan saya saat itu





23.00 WIB saya putuskan untuk turun di KM 57 tol Cikampek arah Bandung, karena perkiraan sudah tidak bisa lagi mengejar kereta di stasiun Purwakarta. Terdiam sendiri ditengah keramaian orang yang akan pulang kampung halaman, menyaksikan hilir mudik bis malam dan dikondisi itu layar HP Menjadi media pengantar pesan. Syukur anggota yang lain dapat tiba di stasiun tepat waktu hanya saya saja yang tertinggal disini. Ditengah kondisi seperti itu berharap ada bis jurusan magelang atau paling tidak purwokerto yang sengaja mengisi bahan bakar di rest area KM 57 dan tuhan memang berkata lain, hingga pukul 00.30 pun tak ada bis yang menuju arah tersebut, hingga akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Bandung terlebih dahulu, Entah apa yang ada di balik maksud tuhan ini. 

…..
3 April pukul 07.00 menikmati kopi pagi kosan di kawasan Dago ditemani oleh 2 orang sahabat kuliah. Haha banyak cerita yang hadir dikosan ini. Tak lama berselang datang 2 sahabat lain ternyata Syamsul dan Ahmad berkunjung ke kosan, sekedar ingin bersilahturahmi dengan kami. Sekalian ada syamsul yang pijitannya TOP BGT langsung minta dipijitin aja dengan alasan “bisi keram pas naik gunung nanti” haha. 

Pukul 16.00 saya berangkat menuju terminal Cicaheum untuk melanjutkan perjalanan ke Merbabu, memang paginya saya sudah memesan tiket bis malam Kramat Djati jurusan Bandung – Magelang dengan keberangkatan pukul 17.30. Dengan diantar oleh Ardi akhirnya bisa sampai juga di terminal Cicaheum sebelum pukul 17.30. Kembali berada dalam kesendirian di tengah perjalanan yang jauh.

Dibelahan lain pulau jawa rombongan yang lain sudah sampai di stasiun tawang semarang pukul 5 pagi dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Magelang dan kemudian lanjut ke Wekas. Dari desa Wekas mereka melanjutkan pendakian ke pos 2 pukul 14.00 dengan kondisi hujan. Dan saya sendiri yang baru sampai di kebumen pukul 04.00 (04/03/2015) terbangun dengan suara telepon yang tak lain dari  si Ikhsan yang sudah camp di pos 2, menanyakan “mau nyusul ke pos 2?” saya jawab “ya tungguin aja….”
  
….
Terminal Magelang pukul 07.00 sedikit terlambat dari jam kedatangan seharusnya, memang insiden di perjalanan tadi memang membuat waktu perjalanan bertambah tapi beruntung masih bisa melanjutkan perjalanan J. Dari terminal Magelang saya melanjutkan perjalanan ke Base Camp Wekas dengan menggunakan ojeg, melintasi jalur-jalur yang pernah dilewati 3 tahun silam. Masih teringat iring-iringan Stenophylla kala itu, capenya nggak ada dua tapi memang bermakna.
Setelah menyelesaikan simaksi di basecamp akhirnya mulai menginjakan kaki untuk pendakian, solo tracking.. yah I’m used to be like that. Melewati jalanan paving block yang cukup nanjak dan dilanjutkan dengan track tanah basah hingga akhirnya sampai di pos 1 yang ditandai dengan pohon yang dibentuk sedemikian rupa hingga akhirnya membentuk seperti kursi. Dari pos 1 perjalanan dilanjutkan dengan kondisi sudah turun kabut tapi memang tidak hujan. Tidak aneh juga ketika  pendaki lain menanyakan , “sendirian aja mas?” saya jawab “nyusul temen mas”. Taklama dari jalur tanah ini terdapat pipa air yang menandakan tak jauh lagi dari pos 2 dan akhirnya sampai juga di pos 2 Wekas dengan kondisi tanah lapang yang tertutup oleh kabut, sejenak saya perhatikan mereka yang sedang berdiam diri di tenda consina magnum terlihat agak sibuk dengan pakaian yang basah hingga akhirnya kusapa “assalamualaikum” mereka   tepat sebelum pukul 10 pagi. 


Jika memang tujuan dan hati sudah ada di sana kenapa harus kuragukan setiap langkah yang dilangkahkan beriringan dengan jalannya sang waktu.  –Pos 2 Wekas, Merbabu

2 sahabat, Matahari terbenam,  Pemancar 

Pukul 2 siang consina magnum 4 dan consina summertime yang dihubungkan dengan flysheet akhirnya sudah terpasang dengan sempurna, membuat nyaman para penghuni sementara didalamnya. Hidangan makan siang atau bagi saya sebut saja hidangan makan pagi yang disiangkan sudah siap tersedia. Dengan masakan dari Chef Uli dan Chef Nuy dengan menunya yang jarang-jarang ada, Sop daging + sosis bakar + lain-lainnya bikin perut merasakan surga kembali.
Lagi seru-serunya ngoprek-ngoprek tenda Dita malah mengajak buat sunset, “sunset yu..” haha dengan tanpa pikir lagi, saya jawab “Ok kita coba sunset tp sepertinya tidak sampai puncak, set jam 5 sore aja kita balik lg ke pos 2”. Akhirnya kami  berdua saya dan Dita berangkat menuju puncak terdekat dengan target jam 5, sedangkan kawan-kawan yang lain menunggu di camp pos 2.
Sambil membawa handy talky kami terus berhubungan dengan kawan lain di pos 2, setiap 15 menit sekali kami melaporkan kondisi jalur dan durasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tempat tersebut. 1 jam hingga 2 jam akhirnya kami  mencapai tempat itu..
Subhanallaah!!! 

Pos Pemancar




Diujung titik terjal tersebut kusaksikan savannah rumput, bergerak mengikuti angin tanpa paksaan. Dan awan putih Seakan menjadi tanah yang menunggu tuk ditanam. Indah bukan kawan.

Pemancar yang berdiri tegak puluhan meter, sungguh aku iri pada dia. Setiap saat menjadi saksi bisu keindahan ini. Andai dia bicara akan kudengar semua celotehan tentang matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Sungguh menakjubkan kawan.

Dan dentingan jarum jam seakan menjadi pembatas bagi kehidupan, kau ingat dentingan sebelum tiba disini adalah proses yang selalu kunikmati. Setiap detiknya atau mungkin sepersekian detiknya. Karena sungguh kawan esok lusa mungkinkah kita masih sempat menikmati hal ini.

Pukul 6 sore kami bergerak turun menuju pos 2. Dengan kondisi yang semakin dingin dan angin yang semakin kencang membuat tubuh kami berdua sedikit menggigil. Dengan Handytalky saya sampaikan untuk menydiakan kopi ataupun air hangat, setidaknya untuk mengatasi rasa dingin ketika sampai di pos 2. Perjalanan turun menuju pos 2 dari pos pemancar membutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit hingga akhirnya kami sampai di pos 2 disambut dengan kopi panas.. yummy.




Tempat tertinggi dan salam tersampaikan

Pukul 3 pagi terdengar seorang mengetuk pintu tenda kami, itu Nurhayati. Dengan semangatnya dia mengajak untuk sunrise. Dengan muka yang masih mengantuk ikhsan, Setiana  dan Saya sendiri terbangun. Sejenak nyawa belum terkumpul hingga akhirnya tanpa disadari otot motorik mulai menggerakan sendi-sendi tulang. Bergerak kemudian membereskan peralatan dan logistik yang akan dibawa untuk ke puncak. Di tenda sebelah ternyata Uli dan bang Mats sudah terbangun bahkan sudah terlihat siap dengan jacket dan ransel yang dibawanya. Sedikit bergegas dan akhirnya kami semua siap untuk summit attack, kecuali dita yang rencananya akan menyusul.
Sejam hingga 2 jam kami berjalan hingga akhirnya kami sampai di pos pemancar dengan posisi sang matahari sudah terlihat di arah timur. 

6:12 dan gunung Sumbing


Perjalanan dilanjutkan menuju puncak Merbabu,  track yang kami lewati semakin lama semakin menyiksa persendian dan stamina kami. Tak jarang kami beristirahat 15 menit sekali,, di tengah waktu-waktu istirahat masih teringat 3 tahun silam melewati jalur berbatu ini dan tanpa sengaja menghirup gas amoniak. Masih teringat juga di akhir jalan itu teman seperjalanan saat itu melemparkan roti-roti pada kami, bahkan cuaca pada saat itu pun hujan deras sekali jangankan jas hujan kami hanya memakai trashbag yang disulap menjadi jas hujan.. mengenaskan tapi memang bermakna.. hey Stenophyllaaaa!!!
Hampir 2 jam lebih perjalanan melewati jalur-jalur terjal hingga akhirnya kami sampai di persimpangan puncak Syarif dan puncak Kentheng Songo.

The Fight


3 Tahun lalu terhenti di titk ini, kami menyerah pada sang pemberi waktu. Mungkin bukan kesempatan kami saat itu untuk sejenak berdiri di tempat tersebut. Untuk setidaknya dapat menceritakan bahwa aku jatuh cinta pada Merbabu. Sekarang aku tak mau membuang kesempatan ini, mungkin tuhan berkehendak saat itu agar pada saat ini dapat bersama mereka ada di tempat ini.
Sesampainya di pertigaan tersebut aku memilih untuk pergi ke puncak syarif terlebih dahulu, sedangkan Ikhsan, Kipel, Nuy, Uli dan Bang Mats memutuskan langsung ke puncak Kentheng Songo. Sekitar 5 menit saya berjalan dari pertigaan tersebut hingga akhirnya sampai di puncak Syarif…. 

REALLY I’M FALLIN LOVE 




Melalui handy talky saya menanyakan keberadaan dita yang akan menyusul dan ternyata dia sudah setengah perjalanan. “dit ke puncak syarif dulu, it’s really amazing” percakapan di handy talky. Hingga akhirnya 20 menitan menunggu di puncak syarif, Dita terlihat dari jalur pendakian… yes He made it!!

Dita @Puncak Syarif


Me @Puncak Syarif

Dari puncak Syarif kami melanjutkan perjalanan ke puncak Kentheng Songo dan setibanya disana Ikhsan dan kawan-kawan lainnya sudah memasak sosis yang kami bawa dari pos 2. Kondisi cuaca yang mulai berkabut membuat kami sedikit cemas dengan perjalanan turun nanti. Secepatnya kami mengabadikan pencapaian kami disini. Kentheng Songo 




Full Team




STENOPHYLLA

  “Merbabu ini kami, Stenophylla terimakasih sudah pernah ada di hati kami. Memberikan suatu makna kebersamaan. Terimakasih untuk itu dan aku bersyukur” – Merbabu, 4 April 2015

…..
Pukul 15.00 semua perlengkapan sudah terpacking sempurna dalam tas carier berbagai ukuran, tak percaya bahwa aku meninggalkan tempat seelok ini, dinding tebing terjal menjadi pemandangan kami. Dengan bacaan doa kami meminta agar dapat kembali dengan selamat dan dapat berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai.. usai memanjatkan doa kami mulai bergerak turun menuju basecamp Wekas.

Perjalanan turun yang memang tak mudah, tak ayal jalur-jalur tanah yang diguyur hujan menjadi lintasan licin bagi pijakan kami, jatuh menjadi skor yang kami tertawakan setiap detik perjalanan pulang. Hingga akhirnya pos 1 wekas dan benar-benar pos 1 wekas bukan pos 1 imajinasi haha terlewati. Terus bergerak hingga akhirnya kami menemui para motor crosser yang berniat membawa motornya hingga pos 2 wekas. Impossible… but I Think It’s possible. Akhirnya kami sampai di jalan paving block desa, sungguh lega akhirnya sampai disini dan 10 menit dari situ akhirnya sampai di Basecamp.. 

Alhamdulillah 


Karena kemampuan manusia bukan 1+1=2

2 tahun silam di puncak gunung Slamet menunggu seorang kawan yang berbadan gemuk dan hanya bisa bergerak sangat lamban dalam pendakian, jangankan membawa carier membawa badan saja dia sudah kesusahan. Hingga kuragukan dia dapat sampai puncak, terpikir mungkin dia kembali ke camp dan beristirahat sambil tertidur menunggu kami. Tapi takdir berkata lain, He made it… mencapai puncak gunung Slamet dengan track yang sungguh sangat terjal bahkan sayapun harus berbaring di bebatuan untuk menyeimbangkan badan. Sejak saat itu aku sangat menyadari bahwa kemampuan manusia itu tidak terkalkulasi oleh satuan angka numerical, banyak faktor yang tidak dapat kita mengerti..hey kong, naha maneh bisa naek?” dia jawab “Urang ngan percaya hungkul kalo urg bisa, teuing”…. 

….
Pukul 18.00  terdiam di Basecamp menunggu jemputan mobil carteran yang akan mengantar kami menuju stasiun tawang Semarang. Kereta yang akan membawa kami ke tempat tujuan berangkat pukul 20.45 dan 21.00 dari stasiun tersebut. Ya kami memang mulai cemas akan tertinggal kereta..

Pukul 19.00 akhirnya mobil datang dan sejenak berbincang dengan sopir mobil bahwa kami mengejar kereta dari stasiun semarang tawang. Saat itu kami percaya bahwa pak supir bisa mengantarkan kami ke stasiun tepat waktu, karena sebelumnya perjalanan menuju pos wekas memakan waktu 3 jam memakain jalur semarang-salatiga-Magelan-Wekas. Teringat dengan jalur Chuntel yang menghubungkan salatiga dan wekas. Ya mungkin sisa waktu tersisa bisa dimanfaatkan dengan melewati jalur Wekas-Salatiga-Semarang dan kami percaya sampai di stasiun Tawang tepat pada waktunya. 

Mobil dipacu dengan kecepatan 80 – 100 km/jam, bahkan saat di jalur tol Semarang – Salatiga pun Speedometer menunjukan angka 120 km/jam.. sangat kencang dan ditambah jalur tol yang kosong memudahkan Pak Supir menyusul kendaraan lainnya. Hingga akhirnya kami sampai di stasiun Tawang tepat pada waktunya atau mungkin bisa dibilang 5 menit sebelum keberangkatan kereta….

Ketika Tuhan memang sudah berkehendak maka terjadilah..

Dari stasiun Tawang semarang ini kami kembali pulang ke kota perantauan masing-masing bersiap kembali beraktifitas, menyelesaikan berbagai masalah kehidupan yang kompleks. Dan mungkin dari situlah kita belajar banyak hal.



Thanks A Lot All

-Dita Sukma
-Ikhsan
-Rizky Setiana
-Nurhayati
-Uli
-Bang Mats.

See You Again next trip and please the surprise 


Budget dan waktu perjalanan: 

Jakarta – Bandung (Bis MGI) = 65.000 (6 jam) 

Bandung – Magelang (Bis Kramat Djati) = 140.000 (12 Jam)

Magelang – Wekas (ojeg) = 60.000 (1 Jam)
Wekas – Pos 2 = 2 jam

Pos 2 – Puncak Kentheng Songo = 4 Jam
Kentheng Songo – pos 2 = 3 jam
Pos 2 – Wekas = 3 jam
Wekas – Semarang (mobil charter) = 420.000 (1 jam 45 menit)
Semarang - Jakarta (kereta) = 235.000 

Minggu, 21 Desember 2014

CIKURAY MEANS




“Jika hanya puncak saja yang ditargetkan, percayalah hal itu akan didapatkan dengan mudah dan  Jika kau membawa orang lain menuju puncak, Maka hal tersebut akan lebih bermakna” – Cikuray 29 Nov 2014 –

Intro

Naik Cikuray yuk!!, sebuah ajakan simple dari seorang kawan dan sudah hampir setahun lebih saya tak menyapanya entah bagaimana rupa puncak itu sekarang. Pendakian cikuray ini rencananya di eksekusi tanggal 29 november 2014 dengan anggota pendakian yang belum jelas juga. Bisa di maklum karena nama tim ini adalah “Kaget team” semuanya serba unpredictable jadi harus dipastikan juga anggotanya tidak mengidap penyakit stoke atau lemah jantung .

Meet Point

Saya dan beberapa anggota pendakian dari kota cikarang bekasi dan sekitarnya menentukan meet point pertama di terminal Guntur. Ada 4 orang orang dari rombongan  ini, Ari WIbowo si ganteng narsis, Hafid, Faiha dan Fikri si Anak pantai katanya dan Reza aka Blade. Tak lama saya datang di terminal Guntur ternyata mereka sudah siap sedia di warteg terminal sambil menunggu. Finally i meet them.

Perjalanan dilanjutkan menuju meet point kedua, Rumah Tian. Letaknya memang cukup jauh dari pusat kota, tepatnya di bayombong sekitar 30 menit perjalanan bermotor. Setibanya di rumah Tian ternyata sudah ada Kang Hendra, Fathya, Ari, Tian, Hari dan temannya, Intan, dan Nova. They are ready for Hike !!

Base Camp Bayombong yang ada di desa Pamalayan kami tempuh dengan menggunakan angkot charteran. Dengan jalur mobil yang sempit dan menanjak saya kasih jempol untuk sopirnya.

Wild Area

Sebuah tempat bernama Base camp menjadi awal mula kami melangkahkan kami. Dengan menuliskan nama kami di buku pendaki dan Fikri sebagai ketuanya, sejak itu kami resmi menjadi pendaki Cikuray.
ladang track
                                    
Sekitar pukul 14.30 lebih kami berjalan menjauh meninggalkan basecamp, track ladang petani sudah menjadi hal klasik yang harus kami lalui. Track ladang petani ini tracknya diawali dengan jalur setapak kecil yang sudah dilapisi dengan semen, tapi jangan terlalu berharap lebih 30 menit dari titik awal tersebut jalanan menjadi tanah merah yang licin. Apalagi ketika kami mulai menjejakan kaki di tanah merah hujan mulai turun.

Pray
Diantara anggota pendaki di kelompok ini ternyata ada juga yang beginer. Terlihat dari nafas mereka ketika berjalan yang mulai tergesa-gesa. Kalau dibaratkan langkah kaki dalam mendaki itu seperti pelajaran awal gambar teknik, saat itu harus buat garis – garis lurus sepanjang lebarnya kertas A4 dari atas hingga bawah. Garis – garis yang dibuat itu mendeskripsikan kestabilan tangan ketika menggoreskan abu pensil pada kertas. Semakin banyak garis yang dibuat semakin cepat  setiap orang mendapatkan kestabilannya dan tentunya kestabilan tiap orang berbeda2. Nah kalau dianalogikan langkah kaki mendaki, nafas tergesa-gesa tersebut menandakan usaha untuk mencari ritmenya/kestabilannya, sekali sudah dapat ritmenya semakin banyak dia berkreasi dengan ritmenya.

Hafid narsis
Beginer


Lebih 2 jam kami berjalana menyusuri ladang petani ini dan sudah banyak energi yang dikeluarkan dan hampir 20 menit sekali kami beristirahat. Tak ayal ketika kami bertemu dengan seorang anak petani yang melambaikan-lambaikan tangannya sambil bersorak “aya nu naek, aya nu naek dst ... “ menjadi hal yang menggelikan sekaligus menjadi boost semangat lagi.

Tantangan terakhir dari ladang petani ini ada di depan. Sebuah tanjakan dengan kemiringan hampir 60 sepanjang kurang lebih 400 m dengan anak tangga terbuat dari tanah, tak lupa juga pegangan tangan berbahan dari bambu yang menjadi safety line jalur tersebut. Oh.. it’s really a challenge, karena ini special maka harus di hadapin dengan special juga, salep Hotcream dioleskan di sepanjang betis kaki hingga lutut. Setelah itu mulai melangkahkan kaki selangkah demi selangkah menaiki anak tangga tersebut dan setelah sekitar 10 menit dengan tambahan doping madurasa akhirnya bisa sampai diujungnya juga. Fiuhh langsung selondorin kaki.

Diibaratkan dalam software pro engineer setalah membuat bentukan 3D awal selanjutnya membuat datum/reference untuk membuat bentukan 3D lainnya, begitu seterusnya hingga bentuk 3D utuhnya selesai. 30 menit dari tanjakan terakhir ladang petani tersebut tanah lapang yang bisa menampung 2 tenda tersebut akhirnya menjadi datum/reference bagi saya dan kang Hendra. Ternyata:

Energy Requirement for Camp at Top Cikuray > Our starts Energy.

Bisa dimaklumi karena tenaga muda yang mulai terkikis oleh waktu, sehingga kami putuskan untuk membuat camp dan mengisi tenaga terlebih dahulu. Dengan kondisi tersebut kami merencanakan untuk summit attack pada pagi harinya. Pada saat itu waktu sudah menunjukan pukul 6.30 malam dengan kondisi hujan yang cukup lebat.

Sisa anggota kelompok selain kami berdua melanjutkan perjalanan, sesuai dengan rencana mereka berencana untuk camp di pos bayangan. Berdua di tempat camp tersebut, kami memasak makanan dan mendirikan tenda dan setelah itu mempersiapkan diri untuk beristirahat. Seperti nyanyian nina bobo sayup-sayup suara angin kencang di luar tenda, suara rintik hujan dan cerita hidup menjadi pengantar menuju dunia mimpi.

Pukul 9 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju puncak cikuray, dengan tenaga yang sudah terisi penuh dan tidur yang cukup. Kami yakin hari ini

Energy Requirement for Camp at Top Cikuray = Our starts Energy. Atau juga malah over., haha

Jalur yang dilalui dari tempat camp bisa dibilang mengesalkan dan menjengkelkan, sekelas dan menjengkelkan seperti membuat gambar assy yang ideal tapi cleareance tiap partnya nggak kena-kena. Nggak salah jika dianalogikan seperti itu karena sepanjang jalan, tanjakan yang ekstreem menjadi tantangan-tantangan berat kami tapi tak seberat tantangan hidup deh haha.  

Pukul 10:30 an saya dan kang hendra akhirnya mencapai camp anggota lainnya, dengan situasi yang sedang sarapan atau juga makan pagi atau mungkin makan siang, ya itukah. Karena kami sudah menemukan ritme langkah kaki, jadi berat juga untuk diam sejenak. Kami berdua ditambah dengan Fikri melanjutkan perjalanan menuju puncak dan sisanya akan menyusul setelah selesai makan. Penampakan jalur pendakian ke arah puncak setelah camp tersebut.. oh good i couldn’t describe that  , ini orang ya yang buat jalurnya? It’s really awesome track.


Finally it’s top Cikuray.

Kang Hendra at top Cikuray

Kami sampai di puncak sekitar jam 12 siang dan  sekitar 30 menit menunggu di puncak sambil minum kopi akhirnya sisa anggota pendakian yang lainnya datang juga. Langsung selfie-gruofie juga dan sayangnya kondisi cikuray saat itu bukan kondisi terbaiknya.

selfienya

Groufienya


My Medallion
Hey last year i’m here, standing and wearing a graduation dress as a symbolize that i have Amd behind my name. Is that allready enough??
Hey i have passed a horible moment along that year and i have allready learn.
Hey i know it’s my year for RUN RUN and RUN

It just a quote for myself in that moment J

Sekitar pukul 1 lebih kami melanjutkan perjalanan kami untuk pulang meninggalkan puncak Cikuray tersebut dan akhirnya melewati jalur terjal yang membuatku berpikir apa jalur ini dibuat oleh manusia? Terus berjalan turun melewati jalur-jalur ekstreem tersebut dan terkadang saya harus jongkok untuk menjaga keseimbangan. Tak lama dari jalur ekstreem itu akhirnya kami sampai di camp, terlihat mereka sedang membereskan tenda dan packing kedalam ransel mereka. Dengan kesibukan tersebut saya dan kang Hendra akhirnya melanjutkan perjalanan menuju camp kami dan sekali lagi melewati jalur yang menjengkelkan/mengesalkan hingga sekitar satu jam akhirnya sampai di camp kami.

Sekitar satu jam kemudian tenda sudah dipacking kedalam ransel 45 Liter  begitu juga dengan barang-barang yang lainnya, taklama menunggu Fathya akhirnya muncul pertama di camp kami. Selang beberapa lama yang lainnya pun berdatangan. Seperti tak ingin mengecewakan kami cikuray dengan bermurah hati menunjukan sunset yang amazingnya. It’s awesome and  i’m really miss my Nikon L

Sunset

Sayup berwarna orange pada awan mulai berganti dengan warna gelap, matahari yang menggelayun diatas Gunung Papandayan mulai berganti dengan Bulan yang mulai muncul. Dan kami yang sekejap terpesona dengan hal tersebut mulai melangkahkan kaki untuk pulang. Beranjak dari tempat amazing tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan kami baru sampai di tempat dimana anak petani melambaikan tangannya. Beberapa kali diantara kami mulai kehilangan keseimbangan, wajar karena angin yang bergerak dari arah kiri kami sangat kencang. Disaat-saat terpaan angin tersebut, Garut begitu terlihat mempesona dari tempat itu. Lampu kota yang terlihat kontras sangat memanjakan mata, seolah mambuat saya untuk duduk lebih lama menikmatinya. Tapi terpaan-terpaan angin tersebut memaksa kami untuk segera turun ke basecamp.

Pukul 9 malam lebih akhirnya kami sampai di basecamp, tak lama kami menunggu charteran mobil yang akan membawa kami ke rumah Tian. Dari rumah Tian kami beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan pulang ke kota masing-masing.

Thank for trip from Kaget team, it’s really shocking, juga thanks untuk ikan goreng buatan ibu Tian taklupa sambalnya juga haha. Ya terimakasih untuk semuanya. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap perjalanan.


- 210132013
- Vallis Stenophylla

   

Sabtu, 23 Agustus 2014

Mengintip puncak Rakutak, Merasakan dinginnya Ciharus dan Mengagumi Uap Energi Kamojang


 

 Danau hati itu bernama Ciharus dan Gunung Segitiga itu bernama Cikuray

Di akhir hari ketika malam mulai menyambut teringat, cerita seorang kawan mengenai gunung rakutak.. 

            “ ... Bayangkeun lintas ti Bandung nepi ka Garut lewat Gunung Rakutak. Gunung nu jalur ka puncakna ngan satengah meter , terus ngacamp di Ciharus tembus ka Kamojang....”

Sebuah kutipan cerita 2 tahun lalu.. If he remember @jakong. 

Korak-korek Google 

Gunung Rakutak terletak di Bandung selatan, tepatnya di Desa Sukarame Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung. Gunung ini memiliki 3 puncak dan puncak tertingginya adalah 1922 Mdpl , jalur dari puncak 2 menuju puncak 3 memiliki karakteristik yang unik, Jalur ini sangat sempit dengan lebarnya kira-kira 0.5 m dan sering dinamakan jembatan Sirathal Mustaqim

Danau Ciharus terletak di perbatasan antara Bandung selatan dan Garut, tepatnya berada di daerah Samarang,  Garut.  Tak banyak yang tahu mengenai danau ini tapi tak kalah juga dengan Rakumnya Semeru. 

Kamojang yang terletak di Kabupaten Garut dengan ketinggian ±1700 mdpl ini merupakan salah satu tempat yang memiliki kawah. Dari kawah tersebut dihasilkan uap yang dimanfaatkan untuk sumber tenaga listrik dan di daerah ini pula dibangun PLTU Kamojang.
Cari-cari jalurnya guys..


Untungnya udah ada google earth jadi mudah ngebayangin topografinya ^_^ selain nyari jalur sendiri makasih juga buat temen-temen Kaskus yang udah ngetag jalurnya juga.


Jumat 1 Agustus 2014
Kembali merasakan pagi cerah dikawasan KanaDa (Kanayakan Dago) 2 carier kosong mulai diisi satu persatu dengan logistik dan peralatan. Untuk pendakian lintas kali ini hanya kami berdua yang berkesempatan untuk merealisasikannya. Setelah selesai packing mulai deh meninggalkan kosan di KanaDa ini, tapi karena yang punya kosannya lagi mudik kepaksa harus manjat-manjat pagar kosan.

Dari Dago ini kami melanjutkan perjalan ke Cicendo, mau pamitan dulu ceritanya.

Duet Maut
 
Menuju Desa Sukarame dari bandung ini ternyata nggak terlalu ribet juga. Dari Cicendo naik Angkutan arah ke ITC dilanjut naik Elf ke arah Majalaya dan turun di terminal Ciparay. Dilanjut naik angkot warna kuning jurusan Ciparay – Cibeureum tapi pastikan terlebih dahulu kalau angkotnya lewat desa Sukarame atau bilang ke sopirnya mau ke Rakutak. Perjalanan dari bandung ke desa Sukarame ini ± 3 jam

Terminal Ciparay
Terminal Ciparay
 Terminal Ciparay .. angkot berwarna kuning..

 Kami sampai di desa sukarame sekitar pukul 5:30 sore dan langsung saja isi daftar pendaki yang ada di Base Campnya. Di Kaki gunung rakutak ini terdapat Komunitas Penikmat  Alamnya dengan nama Himpala Rakutak sekaligus yang ngelola basecampnya juga.

 

Pada hari itu ternyata banyak juga yang mendaki Rakutak ini terhitung 4 kelompok yang sudah jalan duluan dengan jumlah anggota dari 3 sampai 9 orang dan baru sadar juga hanya kami saja yang mendaki berdua hari itu.

Adzan Maghrib berkumandang sebelum kami berangkat akhirnya kami memutuskan berangkat setelah maghrib saja. Sambil beristirahat sejenak kami di ajak untuk bersilahturahmi dengan pengurus dari Base Camp ini, lumayan dapat sedikit info mengenai jalur pendakiannya. Setelah lama sharing dengan pengurusnya akhirnya kami berangkat naik sekitar pukul 6.30 sore. 

Jalur menuju pintu hutan ini memang cukup membingungkan karena harus melewati gang-gang rumah penduduk hingga harus motong-motong jalur kebun juga, tapi setelah ±15menit berjalan jalur pendakian mulai terlihat, ditandai dengan tanda panah berwarna putih yang digantung di pohon. Jalur meuju pintu hutan ini didominasi dengan perkebunan dan sawah warga. 

Tak lama kami sudah berada di batas pintu hutan, ditandai dengan banyaknya pohon awi yang masih tinggi. Memang untuk saat itu sulit untuk mengidentifikasi keadaan sekitar karena kondisi sudah malam dan harus waspada dengan hewan liar  karena informasi dari basecamp bahwa di pintu hutan ini masih banyak ditemui babi hutan terutama saat malam hari. 

30 menitan kami terus berjalan mengikuti jalan setapak yang tampak samar, hingga sampai di suatu ladang dengan area terbuka. Sejenak beristirahat di tepian batu hitam dan roti dadakan yang dibawa dari rumah tian menjadi hidangan pembuka . Tak lama  saya menengokan pandangan ke belakang, jajaran pegunungan malabar dan gunung wayang di arah barat laut dan butiran cahaya lampu kota menjadi pelengkap sempurna untuk lukisan ini it was amazing and also always be like that...

Perjalanan dilanjutkan kembali dengan tema pembicaraan ”flashback” hha. Selama hampir sejaman lebih bercerita mengenai masa-masa kuliah dulu. Tapi walaupun ceritanya sama tetap saja menjadi hal yang menggelikan ketika diceritakan kembali. 

Sekitar pukul 8.30 malam akhirnya kami menemukan tanda kehidupan. Sebuah tenda Magnum Consina yang berisi 4 jiwa dan  karena sudah malas juga kukurusukan di malam hari kami memutuskan untuk membuat camp disamping tenda mereka. 

Malam semakin larut dan api unggun perlahan menghangatkan tubuh lelah ini. Di balutan malam ini kami saling mengenalkan diri masing- masing dan ternyata asal punya usut ternyata mereka juga bersal dari Bandung dengan tujuan yang sama ke danau Ciharus. Hal yang sangat membuat mereka berbeda dengan kelompok yang lain adalah komposisi karakter orangnya.. bayangkan saja Gani dengan karakter yang sanguinis murni, kemudian Daud dengan karakter setengah Melankolis dan setengah Koleris, Kin-Kin dengan karakter Plegmatis murni dan saudaranya Gani dengan karakter yang hampir sama Plegmatis – Sanguinis.. satu kelompok dengan seorang berkarakter sanguinis sudah cukup untuk membuat kelompok tersebut “ngakak sepanjang jalan” makanya mereka memperkenalkan diri sebagai kelompok ketawa.. 

Sekitar pukul 11 malam, setelah menuntaskan hak dari perut akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Kondisi camp kami saat itu memang sedikit miring hingga tidur pun harus agak bermanuver. Memang tidak ada pilihan tempat camp yang terdekat selain di situ.

 Sabtu 2 Agustus 2014 

Jam 6 pagi matahari perlahan mulai menunjukan wujudnya. Cahaya kemerahannya terlihat disebrang pandangan tenda kami. Gunung wayang dan pegunungan Puntang yang tersinar olehnya menjadi sarapan bagi kami. Sesaat setelah hal tersebut kami mulai mempersiapkan sarapan yang sesungguhnya, hidangan nasi ditambah dengan telor goreng. Setelah itu kami mulai mempersiapkan untuk segera berangkat dan kali ini tim ketawa menjadi featuring kami. Set jam 9 kami memulai perjalan

Trek perjalanan di 10 menit pertama masih dikatakan “sopan” dengan tanjakan yang tidak terlalu curam dan banyak dihadiahi pemandangan lanskap yang memanjakan mata. Tak lama kami mulai memasuki perbatasan perkebunan warga. Jujur saja petani yang berkebun di sini pasti pada kuat2, kebayang jarak rumah warga dengan kebun mereka yang terlampau cukup jauh.

  

Photo tersebut adalah akhir dari trak yang sopan selanjutnya adalah trak yang buat pendaki menjadi sangat sopan hha. jalan dengan kemiringan hampir 70 menjadi teman kami hingga sampai di camp Rakutak yaitu Tegal Alun. Entah apa usal usul mereka menamakan camp tersebut seperti itu, tapi terasa sangat familiar dengan nama tersebut.

 


kami sampai di Tegal Alun pada pukul 10.30 pagi.. lumayan 1 jam 30 menit kukurusukan di jalur yang menyakitkan tadi hha. di camp ini bisa menampung sebanyak 3 tenda kapasitas 4 org namun untuk mata air tidak diketemukan di sini. Di camp ini kami beristirahat sejenak sambil menentukan posisi pada peta topografi. Walaupun skalanya kebesaran 1:25000 nggak tau deh posisi aslinya dimana hha. bergegas kami melanjutkan perjalanan menuju puncak 1 Rakutak. 

Trak pendakian dari tegal alun menuju puncak 1 Rakutak sama dengan trak awal selepas dari batas hutan.. tanjakan yang sangat sopan sekali. 1 jam kami berjalan dari camp tegal alun menuju puncak 1 rakutak dan akhirnya sampe juga walaupun target puncak 1 rakutak diluar perkiraan.. nah loh?? Ternyata kami sampai di puncak 2 Rakutak sedangkan sepanjang perjalanan dari camp tegal alun sendiri kami tidak menemukan tanda-tanda puncak 1 Rakutak.. waw apa ada yang salah?? Mungkin bonus ya bisa langsung ke puncak 2 Rakutaknya tapi terbayar dengan view lanskapnya.


Macro dikit


 

Nah selepas puncak terdapat jalur yang terkenal dengan nama “Sirathal Mustaqim” disebutkan seperti itu karena lebar di sepanjang jalur ini hanya 0.5 m dan kanan kirinya hanya ada jurang terjal. 



Nah nih di foto ada penampakan dari Gani yang mau ke puncak 3 nya Rakutak ..
Packing bentar dipuncak 2 dan sedikit makan cemilan disitu satelahnya kami melanjutkan perjalanan ke puncak 3. Bismillah!
Akhirnya setalah berdebar-debar selama hampir 20 menit di jalur tersebut akhirnya kami sampai di puncak 3 rakutak. Yah it’s amazing view again, how is.... dari puncak 3 rakutak ini danau ciharus dapat terlihat dengan jelas. Warna genangan air berwarna biru dengan diapit oleh 2 bukit sehingga bentukan danaunya terlihat seperti bentukan hati. Orang-orang di media sosial menyebutnnya sebagai Ranukumbolonya Jawa barat, i think it was definetly beautifull as same as Ranukumbolo :D 

Nggak lupa di puncak 3 ini kami selebrasikan pencapaian kami dengan foto-foto lagi. Nah yang lain asik foto-foto saya malah mulai cemas dengan arah yang akan diambil dari puncak 3 ini. Dalam bayangan saya jalur yang menuju danau ciharus ini tertutup dengan hutan yang lebat sehingga harus navigasi tertutup.. yah tertutup sambil nutup mata maksudnya hha. 


Dari puncak 3 ini kami melanjutkan mengikuti jalan setapak ke arah timur. Suatu tempat pada jalur ini kami menemukan plank “Ciharus” yah udah bener deh ini jalurnya

20 menitan dari jalur ini kami menemukan penanda puncak lainnya dan ternyata puncak tertinggi dari gunung rakutak  ada di spot ini. Ditandai dengan plank “top Rakutak 1971 mdpl” dan dibawahnya ada sedikit penanda jejak “fakultas peternakan unpad” nah loh berarti mereka ternak di puncak rakutak ya. Hha
 
Dari tempat tersebut jalur masih sama, tidak ada persimpangan jalan lagi hingga kami berada di batas puncak ini. Ternyata di sini ada hadiah pemandangan lanskap lagi,, Ciharus oh Ciharus..
Ciharus oh Ciharus


Nah dari tempat ini juga traknya mulai dengan turunan sadis, dengan kemiringan hampir 80 membuat  kami harus “kukurusukan” deui ngelewatinnya. Jalur ini bisa dikatakan masih “virgin” kaya film aja.. Hampir di setiap jalurnya masih di tutupi oleh semak-semak belukar dan untung saja Tian bawa si tajam Tramontina yang masih ada “barcodenya”, langsung buka jalurr.
Jalur yang mengerikan ini sampai memakan korban, korbannya adalah Raincover deuter yang sobek sepanjang 5cm.. oh nooo!!! Hha
Sebelum
Sesudah 


Walaupun nilai jual raincover sudah berkurang tetap fokus terusin perjalanan, eh tapi masih kepikiran deh.. hampir 4 jam kami “kukurusukan” dari puncak utama rakutak hingga Danau Ciharus, jalurnya memang samar-samar tapi masih bisa dilacak secara kasat mata. Tak lupa juga beberapa kali berorientasi kembali supaya tak terlalu melenceng jauh dari punggungan gunung rakutak. Jalur menuju Danau Ciharus ini terlihat jelas ketika menemukan jalur air. Memang dari jalur tersebut sering digunakan warga sebagai akses ke Ciharus. Jadi bisa disimpulakan jalur menuju ciharus ini ada 2 pertama lewat puncak ciharus yang memang jalurnya memutar dan jalur kedua dari desa daerah majalengka yang jalurnya lebih dekat. 

Jalur Cai

Pukul 5 sore akhirnya kami mencapai di Danau Ciharus dengan selamat, dan suasana di Danau tersebut sangat ramai, dari anak SD, SMP dan SMA bahkan banyak pemuda/i juga yang sudah pasang tenda di pinggiran danau ini. Sepeda motor yang sudah dimodif jadi trail ataupun masih orisinil menjadi transport yang sering digunakan menuju danau. Tapi yang paling penting setelah perjalanan panjang adalah “Makanan” dimana gorengannya??

Ngantosan Gorengan


Pagi mulai menjadi siang, Siang menjadi Sore dan Sore menjadi malam.. Sore sudah mencapai akhir waktunya dan malam perlahan mulai menyambut danau ciharus. tanah lembab di pinggiran danau kami pilih sebagai tempat camp.




Dimalam berkabut  itu kami duduk di tengah hangatnya perapian kompor portable. Sedikit teringat dengan suasana ini setahun yang lalu, ditengah dinginnya tegal panjang tempat yang banyak menyimpan cerita. Dan danau Ciharus menjadi tempat lainnya dimana cerita terus berlanjut, dimana kami menceritakan apa yang sudah dialami.

Sabtu 3 Agustus 2014 

Hari yang berkabut masih menyambut kami, tak ada bintang bertebaran yang bisa didokumentasikan. Yes i’m really miss that moment. Pagi ini kami berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju kamojang.
Full Team

Setelah packing peralatan dan tentunya sarapan kami melanjutkan perjalanan, perjalanan menuju kamojang ini melewati jalur track motor cross sehingga harus awas dengan suara motor. Bayangkan saja jalur ini hanya bisa dilewati satu orang dan ketika ada motor yang lewat kami harus menyingkir dulu dari jalur.. oh noo!!




Kami meninggalkan Danau ciharus pada pukul 10 pagi dan selama hampir 3 jam kami menyusuri jalur track motor tersebut. Akhir dari jalur ini ditandai dengan jalur pipa PLTU Kamojang yang panjang. Memang jalur tersebut biasa dijadikan jalur motor cros, dimulai dari daerah paseh kamojang dan katanya keluar di daerah Samarang Garut. 

Akhirnya kami menemukan peradaban juga.. walaupun ditandai dengan  pipa-pipa gas panjang yang berdiameter hampir 1 m .. waw dan yang paling terpenting adalah hal tersebut ada di Indonesia. Tanah ini memang banyak memendam “harta Karun” entah selain ini Harta karun apa lagi yang bisa ditemukan.






Setelah menelusuri jalur pipa tersebut kami sampai di jalan besar dan akhirnya bisa menemukan angkutan juga. Jalan tersebut adalah jalan alternative Garut – Bandung yang melewati Paseh atau Majalengka. Karena masih di liburan lebaran suasana jalan ini masih ramai dengan pengunjung yang akan menjelajahi kawah kamojangnya. 

Tapi bagi kami penjelajahan ini sudah mencapai akhirnya.  yah saatnya perpisahan dan “i hate this moment, because a part of my memories was stolen by you” .
 Thanks God i have a chance to more know indonesia ^_^





Catatan perjalanan
Bandung – ITC = angkot jurusan ITC (lupa jurusannya)
ITC – Term.-  Ciparay = Elf Majalaya
Term. Ciparay – Desa Sukarame = Angkot Kuning (pastikan ke Rakutak)
Kamojang – Term kamojang = Angkutan umum coltbak
Term kamojang – Term. Samarang = Angkutan umum coltbak



Another Lanskap Pic